Malang - TPA Supit Urang tak lagi sekadar sebagai tempat pembuangan sampah. Sebab Pemkot Malang, UMM dan Unesco IHE, di Delft Netherland segera membangun laboratorium (lab) pengolahan gas di areal TPA seluas 15 Ha itu.
Pembangunan laboratorium ini sekaligus menjadikan Kota Malang sebagai salah satu kota di dunia yang ikut mengurangi pemanasan global . Laboratorium itu sekaligus sebagai tempat pembelajaran pengelolaan sampah.
Pembangunan laboratorium diawali peletakan batu pertama yang akan dilakukan pada 7 November mendatang. "Rencananya, laboratorium sudah beroperasi pada Januari 2009," kata Prof Dr Laode M Kamaludin, guru besar UMM usai bertemu Wali Kota Malang Peni Suparto di balai kota, kemarin siang.
Lebih lanjut Laode menjelaskan, pembangunan laboratorium pengolahan gas metan sudah diawali penandatanganan MoU dengan pemkot yang ditandatangani Wali Kota Peni Suparto pada 16 September lalu. Pembangunan laboratorium pengelolaan gas metan ini merupakan tahap pertama dari kerjasama. Laboratorium yang segera dibangun itu kata dia merupakan yang pertama di Indonesia."Laboratorium ini akan menjadi pusat pembelajaran tentang pengelolaan gas metan," papar Laode. Di laboratorium itu bisa diketahui proses gas metan terbentuk, kemudian ditarik pita sampai pada pembakaran.
Lantas bagaimana dengan mengkomersialkan gas metan olahan? Laode menjelaskan, di tahap awal, hal itu belum dilakukan. Namun demikian, menurut dia, potensi gas metan di TPA Supit Urang cukup besar. Sehingga kalau dijual, harga gas metan bisa mencapai 18 dolar per ton.
Bila digunakan, untuk luas areal TPA 5 Ha dengan ketinggian 15 meter, gas metan baru bisa habis sekitar 10 tahun. Kalau dihitung pengelolahan gas metan, untuk lokasi seluas 5 Ha saja, bisa menghasilkan gas metan sebanyak 118.234.147 meterkubik per tahun
Jumlah gas metan sebanyak ini bisa menghasilkan listrik sebanyak 5.560.000 Kwh per bulan. Daya listrik yang dihasilkan bisa mencapai nilai Rp 2.324.000.000 per tahun. "Ini bisa menggratiskan listrik ke masyarakat. Bisa hasilkan listrik untuk satu kecamatan," jelasnya.
Sementara itu, Kabid Lokasi Pembuangan, Dinas Kebersihan, Djoko Munari mengatakan, di TPA Supit Urang terdapat enam sel pembuangan sampah. Nanti, gas metan yang akan diambil untuk laboratorium pada sel 1, 3, 4 dan 5.(van/lim)(Vandri Van Battu)









2 komentar:
wah mantapp bisa mengatasi krisis nih. Nice info,bro
wah boleh juga tuh k'lo dibuat jadi pembangkit listrik alternatif
Poskan Komentar